TUGAS KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM LATIFATUL MUYASAROH 6 PGMI D



PROBLEMATIKA LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL DAN NON FORMAL
 






                                                                  



Makalah ini disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam
Dosen pengampu: Rahman Affandi, S.Ag.,MSi.

Disusun oleh:

Latifatul Muyasaroh                (1423305155)



JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
PURWOKERTO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Islam sebagai petunjuk Illahi mengandung implikasi kependidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, muhsin, dan muttakin melalui proses tahap demi tahap. Islam sebagai ajaran mengandung sisitem nilai dimana proses pendidikan Islam berlangsung dan berkembang secara konsisten untuk mencapai tujuannya. Pendidikan Islam yang diartikan sebagai suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.[1]
Pendidikan yang berkembang dibagi menjadi dua kategori umum, pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah sistem pendidikan modern yang dibagi-bagi secara berjenjang, tersusun, dan berurutan, sejak dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Selanjutnya, selain keterbatasan sekolah-sekolah dasar dan ketidakefisiennya. Karena itu untuk memenuhi kebutuhan belajar pokok lainnya mereka bergantung pada lembaga pendidikan nonformal.
Pendidikan nonformal yakni beraneka warna bentuk kegiatan pendidikan yang terorganisasi atau setengah terorganisasi yang berlangsung diluar sistem persekolahan, yang ditujukan untuk melayani sejumlah besar kebutuhan belajar dari berbagai kekompakan penduduk, baik tua maupun muda.
Banyaknya lembaga pendidikan formal dan non formal di Indonesia sangatlah menunjang untuk memajukan SDM yang berkualitas. Apalagi pendidikan tersebut didalamnya berkaitan dengan pendidikan agama Islam yang mana hal tersebut dapat meningkatkan ketakwaan dan keimanan SDM tersebut.
Namun, meski demikian lembaga pendidikan yang berbasic atau beralmamater madrasah masih selalu tertinggal dibanding dengan sekolah umum. Masih banyak problematika-problematika yang terdapat dalam sebuah lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal yang sampai sekarang belum ditemukan solusi pemecahan atau penyelesaiaannya.
Adapun yang menjadi objek penelitian lembaga pendidikan  formal adalah MI Ma’arif NU Ngadirejo, dan lembaga pendidikan nonformalnya yaitu pondok pesantren Al-Ishlah.
Dari latar belakang tersebut penulis bermaksud mengadakan observasi tentang problematika pendidikan Islam di MI Ma’arif NU Ngadirejo dan Pondok Pesantren Al-Ishlah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang berada dalam latar belakang diatas, maka penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimana problematika pendidikan Islam di MI Ma’arif NU Ngadirejo dan Pondok Pesantren Al-Ishlah ?”

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang problematika pendidikan Islam di MI Ma’arif NU Ngadirejo dan Pondok Pesantren Al-Ishlah.  
2.      Manfaat penelitian
a.       Sebagai upaya peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan
b.      Sebagai bahan informasi ilmiah tentang problematika pendidikan Islam di MI Ma’arif NU Ngadirejo dan Pondok Pesantren Al-Ishlah





















BAB II
   PEMBAHASAN
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Contohnya seperti TPQ, kursus diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.[2]
Ke duanya saling berkaitan, dan juga banyak problematika yang dihadapi di setiap pendidikan tersebut. Oleh karena itu makalah ini merujuk kepada problematika yang dihadapi  baik itu formal maupun non formal untuk melakukan observasi disetiap sekolah masing-masing.[3]

A.    Waktu Dan Tempat Pelaksanaan.
1.      Waktu
Waktu pelaksanaan observasi tentang problematika pendidikan formal di MI Ma’arif NU Ngadirejo dilaksanakan pada Sabtu, 22 April 2017. Dan waktu pelaksanaan observasi tentang problematika pendidikan non formal di Pondok Pesantren Al-Ishlah dilaksanakan pada Minggu, 23 April 2017.
2.      Tempat
Lembaga pendidikan yang menjadi lokasi penelitian terdiri dari lembaga pendidikan formal dan nonformal, yang secara geografis terletak didesa Ngadirejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

B.     Gambaran Umum Lembaga  Pendidikan Formal Dan Non Formal.
1.      Lembaga Pendidikan Formal
a.      Identitas Sekolah
Nama Sekolah                 : MI Ma’arif NU Ngadirejo
Alamat                            : Ngadirejo, rt.003, rw.003, Kaligesing, Purworejo
Status Sekolah                : Swasta
Jenjang Pendidikan         : Madrasah Ibtidaiyah

b.      Visi dan Misi
 Berdasarkan dari hasil wawancara dengan nara sumber pada tanggal 22 April 2017, bahwa tujuan didirikannya MI tersebut dan tujuan mengajar/mendidik yakni sesuai dengan visi dan misinya yaitu :
a.       Visi
Membentuk generasi umat yang berakhlakul karimah, berilmu, amaliyah, dan berwawasan mandiri.
b.      Misi
1.      Terwujud generasi umat yang santun dalam bertutur dan berperilaku.
2.      Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan mampu mengaktulisasikan dalam masyarakat.
3.      Mewujudkan keseimbangan pembelajaran dalam mempelajari ilmu agama dan umum.
4.      Menyelenggarakan tata kelola madrasah yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
 c. Ekstrakulikuler
1. pramuka
2. Seni Tari
3. Komputer
d. Prestasi
1.  Juara satu lomba Pesta Siaga se-Kaligesing, tahun 2015
2. Juara 2 lomba pidato bahasa Arab tingkat Kecamatan
3. Juara 1 lomba tari saman tingkat kabupaten, dan lain-lain.
2. Lembaga Pendidikan Non Formal
a. Identitas Pondok Pesantren
Nama Pondok Pesantren         : Al- Ishlah
Alamat                                                : Ngaran, rt.004 rw.006, Kaligesing, Purworejo        
Status                                      : Yayasan
Jenis Lembaga                         : Non Formal
b.Visi dan Misi
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan nara sumber pada tanggal 23 April 2017 bahwa tujuan didirikannya pesantren Al- Ishlah tersebut dan tujuan mengajar/mendidik yakni sesuai dengan visi dan misinya yaitu :
a.       Menghidupkan/melestarikan ajaran agama Islam
b.      Mencari ridla Allah SWT
c.       Menghilangkan kebodohan
d.      Memberikan ilmu pengetahuan agama
e.       Mencetak santri yang berkualitas dalam bidang agama Islam dan menjadi santri yang shalih dan shalihah
c.  Ekstrakulikuler
a.       Hadroh
b.      komputer
c.       Kaligrafi
d. Prestasi
a.       Juara 1 MQK Fathul Qarib antar pesantren
b.      Juara 3 hadroh se-Kaligesing dalam rangka hari santri nasional
c.       Juara 3 lomba kaligrafi tingkat kabupaten, dan lain sebagainya.
C.    Hasil Penelitian (Problematika)
1.      Lembaga Pendidikan Formal
Pada lembaga pendidikan formal yang dilihat dari fasilitas yang ada sudah cukup memadai, tapi tetap ada masih adanya kendala atau problematikanya, antara lain yaitu :
a.       Latar belakang tenaga pengajar dengan apa yang mereka ajarkan kurang adanya kesesuaian.
b.      Siswa yang belum cukup umur untuk masuk sekolah ataupun siswa yang IQ-nya kurang, maka terdapat sebuah kesulitan dalam pembelajaran dan dengan siswa yang lainnya.
c.       Walaupun adanya BOS, tetapi didalamnya masih saja terdapat kekurangan dibidang fasilitas untuk pembelajarannya, seperti buku pegangan guru dan siswa, alat peraga dan lain sebagainya.
d.      Siswa yang bergaul dengan orang yang tidak sesuai umurnya, maka akan mengakibatkan tingkah lakunya itu menjadi semaunya sendiri dan cenderung terjadinya sebuah kriminalitas dari siswa tersebut.
      2. Lembaga Pendidikan Non Formal
Problematika terjadi pada lembaga pendidikan nonformal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada lembaga pendidikan formal. Adapun problematikanya antara lain, yaitu :
a.       Dana yang sangatlah minim, sehingga fasilitas yang digunakan menjadi kurang memadai.
b.      Adanya teknologi elektronik menyebabkan santri terlambat atau agak susah untuk berangkat mengaji.
c. Belum adanya kurikulum yang menjadi landasan program pengajaran.
d. Kurangnya tenaga pengajar.

                                                                   










BAB III
 PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari penulisan laporan yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Problematika Lembaga Pendidikan Formal
a.       Latar belakang tenaga pengajar dengan apa yang mereka ajarkan kurang adanya kesesuaian.
b.      Siswa yang belum cukup umur untuk masuk sekolah ataupun siswa yang IQ-nya kurang, maka terdapat sebuah kesulitan dalam pembelajaran dan dengan siswa yang lainnya.
c.       Walaupun adanya BOS, tetapi didalamnya masih saja terdapat kekurangan dibidang fasilitas untuk pembelajarannya, seperti buku pegangan guru dan siswa, alat peraga dan lain sebagainya.
d.      Siswa yang bergaul dengan orang yang tidak sesuai umurnya, maka akan mengakibatkan tingkah lakunya itu menjadi semaunya sendiri dan cenderung terjadinya sebuah kriminalitas dari siswa tersebut.
2. Lembaga Pendidikan Non Formal
a.       Dana yang sangatlah minim, sehingga fasilitas yang digunakan menjadi kurang memadai.
b.      Adanya teknologi elektronik menyebabkan santri terlambat atau agak susah untuk berangkat mengaji.
c. Belum adanya kurikulum yang menjadi landasan program pengajaran
d. Kurangnya tenaga pengajar

B.     Saran-Saran
Dari hasil penelitian ini, maka penulis menyarankan:
1.      Lembaga Pendidian Formal
a.       Guru memberikan nasihat ataupun pengarahan terhadap siswa yang berperilaku yang kurang baik.
b.      Guru dituntut kreatif, inovatif, evektif dan lain sebagainya.
2.         a.       Adanya sebuah kenegasan dari ustadznya, seperti adanya sebuah hukuman dan lain sebagainya.
b.      Ustadz dituntut harus mempunyai target yang pasti dalam PBM berlangsung.
c.       Adanya sebuah kedisiplinan yang diterapkan oleh asatidznya dan santrinya.
d. Mencari atau menambah dewan asatidz.











DAFTAR PUSTAKA
Selamatkan Generasi Emas 2045”, Majalah Suara Pendidikan, (Edisi XIV Oktober 2013).
H.M Anshari, 1982. Pengantar Ilmu Pendidikan. (Surabaya: Usaha Nasional).
 Daulay, Haidar Putra.1999. Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : Logos).


















[1] Selamatkan Generasi Emas 2045”, Majalah Suara Pendidikan, (Edisi XIV Oktober 2013).
[2] Hafi H.M Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,1982). Hlm 9-10.
3 Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : Logos, 1999), hlm.23-24


Komentar

  1. The 7 Best Casino City Casinos - Mapyro
    The 7 Best Casino City Casinos in 전주 출장안마 Michigan · 1. 안양 출장마사지 Lincoln Casino, Lincoln City, MI · 2. Golden Nugget, NV · 3. Las 상주 출장샵 Vegas 광명 출장샵 Sands, NV · 4. Bellagio, 강원도 출장샵 CA · 5. Bellagio

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM FORMAL DAN NON FORMAL,DIAN NAELIL.M

Problematika pendidikan islam formal dan non formal,yunia caesar.p