PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM FORMAL DAN NON FORMAL,DIAN NAELIL.M
PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM FORMAL DAN NON FORMAL

Makalah ini disusun dan
diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan
Islam
Dosen Pengampu : Rahman
Afendi, S.Ag , M.Si.
Disusun oleh:
Diannaelil Muna 1423305144
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
PENDIDIKAN GURU MADRASAH
IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI ( IAIN )
PURWOKERTO
2017
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peseta didik agar berpera aktif dan positif dalam hidupnya sekarang
dan yang akan datang, dan pendidikan nasional indonesia adalah pendidikan yang
berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasioanal indonesia.
Pendidikan fomal adalah lembaga
pendidikan yang terstrutur dan berjenjang yang dikelola secara resmi baik oleh pemerintah maupun oleh swasta
seprti pendidikan SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, sedangkan dalam pendidikan
islam dapat berupa Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTS,MA,IAIN dan sejenisnya.
Pendidikan non fomal adalah
pendidikan yang tidak terstruktur dan dapat dilakukan secaa berjenjang tapi
tidak secara resmi dan materinya bersifat penguatan pada lembaga pendidikan
fomal.
Pendidikan islam diarahkan kepada
usaha untuk membedayakan masyarakat agar mampu mengembangkan potensi fitrah
manusia hingga ia dapat memerankan diri secaa maksimal sebagai pengabdi Allah
yang taat. Salah satu lembaga pendidikan islam yang sampai sekarang
eksistensinya masih diakui, bahkan semakin memainkan peannya ditengah-tengah masyarakat dalam
pelaksanaan pendidikan islam nonfomal adalah pondok pesantren.
Pengelolaan lembaga pendidikan
formal telah diatu secara rinci dan jelas dalamUU No.20 Th 2003 tentang
SISDIKNAS (system pendidikan nasional), UU No.12 Th 2012 tentang pendidikan
tinggi, UU badan usaha lembaga pendidikan, keputusan presiden, dan lain-lain.
Sementara lembaga pendidikan non fomal belum diatur secara jelas dan rinci,
pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan non fomal belum diatur secara
jelas dan rinci ,
Lembaga pendidikan Islam (pesantren,
madrasah, sekolah dan perguruan tinggi Islam) mempunyai misi penting yaitu
mempersiapkan generasi muda ummat Islam untuk ikut berperan bagi pembangunan
ummat dan bangsa di masa depan. Pentingnya misi lembaga pendidikan Islam
ini disebabkan karena hampir seratus persen siswa atau mahasiswa yang belajar
di lembaga pendidikan Islam adalah anak-anak dari keluarga santriiii. Hal
ini berbeda dengan keadaan di sekolah atau perguruan tinggi umum yang siswa
atau mahasiswanya merupakan campuran antara anak keluarga santri dan keluarga
abangan. Apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di madrasah bagus,
maka, insya Allah, mereka akan menjadi orang yang berkualitas dan akan memainkan
peran penting sebagai pemimpin ummat, masyarakat, dan bangsa. Sebaliknya,
apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di madrasah tidak bagus, maka
kemungkinan mereka untuk berperan dalam percaturan bangsa akan menjadi amat
kecil. Salah-salah, mereka akan menjadi bagian problem masyarakat dan bukan
bagian penyelesaian problem masyarakat.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Waktu dan Tempat
1.
Waktu : tanggal 4 april 2017
2.
Tempat : MI busthonuttolibin dan pondok pesantren arrizki cerih
jatinegaa tegal.
B.
Gambaran umum sekolah
1.
Lembaga pendidikan formal
MI
busthonuttolibin cerih kecamatan jatinegara kab, tegal
Visi :
Ø Terwujudnya
peserta didik yang mampu membaca Al Quran dengan baik dan benar (tartil).
Ø Terwujudnya
peserta didik yang tekun melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.
Ø Terwujudnya
peserta didik yang santun dalam bertutur dan berperilaku.
Ø Terwujudnya
peserta didik yang unggul dalam prestasi akdemik dan non akademik sebagai bekal
melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan atau hidup mandiri.
Misi
:
Ø Mewujudkan
pembelajaran dan pembiasaan dalam mempelajari Al Quran dan menjalankan ajaran
agama islam.
Ø Mewujudkan
pembentukan karakter islami yang mampu mengaktualisasikan diri dalam masyarakat.
Ø Menyelenggarakan
pendidikan yang berkualitas dalam pencapaian prestasi akademik.
Ø Meningkatkan
pengetahuan dan profesionalisme tenaga kependidikan sesuai dengan perkembangan
dunia pendidikan.
Ø Menyelenggarakan
tata kelola Madrasah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel
2.
Lembaga pendidikan nonformal
Pondok
pesantren arrizki cerih jatinegara tegal
Visi
Ø Terwujudnya
insan yang memiliki keseimbangan Spiritual, Intelektual, dan Moral menuju
generasi ulul albab yang berkomitmen tinggi terhadap kemaslahatan Umat dengan
berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.
Misi
Ø Menyelenggarakan
proses pendidikan Islam yang berorientasi pada mutu, berdaya saing tinggi, dan
berbasis pada sikap Spiritual, Intelektual dan Moral guna mewujudkan
pemimpin yang menjadi rahmatan lil alamin .
Ø Mengembangkan
pola kerja pondok pesantren dengan berbasis pada manajemen profesional yang
Islami guna menciptakan suasana kehidupan di lingkungan pondok yang tertib,
aman dan damai.
Ø Meningkatkan
citra positif lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang berwawasan sains dan
teknologi Informasi serta berbudaya modern yang Islami
C.
Hasil penelitian (problematika)
1.
Lembaga pendidikan formal
1)
Adapun problematikanya :
a.
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang tidak
mempehatikan masalah agama.pendidikan
islam saat ini menghadapi masalah serius yang bekaitan dengan perubahan
masyarakat yang terus menerus semakin cepat lebih-lebih perkembangan ilmu
pengetahuan yang ahmpi tidak mempedulikan system suatu agama. Kondsi sekarang
ini pendidikan islam berada pada posisi deteminisme historic dan realism. Dalam
artian bahwa satu sisi umat islam berada pada romantisme histois diman mereka
bangga karena pernah memiliki para pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan besar
danmempunyai kontribusi yang besar pula bagi pembangunan peradaban dan ilmu
pengetahuan dunia sertamenjadi transmisi bagi khazanah Yunani, namun di sisi
lain mereka menghadapi sebuahkenyataan, bahwa pendidikan Islam tidak berdaya
dihadapkan kepada realitas masyarakatindustri dan teknologi modern. Hal ini pun
didukungdengan pandangan sebagian umat Islam yang kurangmeminati ilmu-ilmu umum
dan bahkansampai pada tingkat “diharamkan”.
b.
Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
banyak
sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan
penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara
laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan
sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri,
tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
c.
Rendahnya Kualitas Guru
kebanyakan
guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya
sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 tentang Sisdiknas yaitu
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat
d.
Rendahnya Kesejahteraan Guru
kesenjangan
kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di
lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf
ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403
PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan
dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen
2)
Solusinya
a.
Solusi terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang
tidak memperhatikan masalah agama.
Untuk
menyelesaikan masalah ini, penulis kira pendidikan islam harus segera menguasai
pendidikan berbasis teknologi, agar pendidikan islam tidak jauh tertinggal
dalam pendidikan
b.
khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya
sarana fisik dan kesejahteraan guru berarti menuntut juga perubahan sistem
ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan
Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem
kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam
yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan
pendidikan negara
c.
solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya
praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru,
misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi
solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru.
2.
Lembaga pendidikan non fomal
1)
Problematika
a.
degradasi kualitas pendidikannya.
Sebab, kualitas ilmu kiai dan para ustaznya
juga banyak yang menurun. Belum sisi lain yang lebih kita kenal sebagai
"berkah", juga sangat berkurang karena kadar kualitas keikhlasan kiai
dan para ustadznya juga merosot. Apalagi bila pesantren salaf itu berganti
‘kelamin’ menjadi pesantren formal. Secara umum, jelas sekali degradasi
kualitas kemampuan kitab kuningnya, bahkan juga sampai ke budaya para santri
yang masih menetap di pesantren itu juga ikut berubah.
b.
cenderung berkiblat ke model
pendidikan ribath di Hadramaut .
karena para dai pertama di Jawa
memang berasal dari sana. Yang mencolok adalah penekanannya dalam bidang fikih
yang sudah jadi dan tasawuf serta ilmu alat. Barangkali inilah yang memunculkan
predikat pesantren salaf. Kemudian, predikat pesantren salaf didikotomikan
dengan pesantren modern. Walaupun pada awalnya dikotomi itu juga rancu. Sebab,
ada pesantren yang mengklaim dirinya modern dengan kurikulumnya yang berbeda
dengan pesantren salaf, yaitu penekanan pada bahasa Arab/Inggris dan tidak mau
fikih. Tetapi, (dulu) tidak mau memasukkan pendidikan formal (sekolah
berafiliasi Departemen Pendidikan Nasional/Departemen Agama). Sementara, ada
pesantren yang masih mangaku salafiyah, tapi malah sudah mendahului mengadopsi
sekolah formal mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, baik yang
berafiliasi ke Depdiknas maupun Depag.
BAB
III
Kesimpulan
Pendidikan yang bermutu merupakan
cita-cita besar bangsa ini dan menjadi tumpuan utama untuk mewujudkan generasi
penerus bangsa yang berprinsip Pancasila dan 17Djoni Setiawan, “Whole Brain
Teaching”, Majalah Suara Pendidikan (Edisi XXIII Juli 2014). 39. Problematika
Pendidikan Volume 6, Nomor 1, April 2015 103 bermoral tinggi. Problematika yang
ada di Madrasah Ibtidaiyah menyiratkan bahwa masih banyak hal yang harus
dibenahi oleh para pendidik tentang permasalahan yang seharusnya tidak menjadi
rumit dan kompleks lagi. Solusi demi solusi telah membantu penyelesaian
problematika di pendidikan tingkat dasar Madrasah Ibtidaiyah, yang mana akan
juga membantu menyukseskan pendidikan bermutu. Problem yang terjadi kadang
adalah dampak dari kurangnya perhatian serta kurangnya sikap antisipatif pada
seorang guru. Terkadang pendidikan yang ada hanyalah proses transfer
pengetahuan saja dan belum menyentuh akar yang lebih mendasar lagi, sehingga
menyebabkan masalah pendidikan siswa kita yang semakin pragmatis-negatif dan
tidak bernilai dalam setiap tindakannya. Permasalahan yang sering terjadi di
ranah pendidikan, terutama pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah harus segera cepat
diatasi atau diselesaikan. Karena banyak permasalahan ini membuat pondasi buruk
pada anak dan mengakibatkan kebiasaan buruk pula. Banyak problem yang membuat
anak kurang dapat mengembangkan diri, sehingga kompetensi tidak dapat meningkat
dan malah menurun. Untuk menyiapkan generasi emas, guru harus siap untuk
mengembangkan segala potensi anak yang meliputi aspek moral dan nilai-nilai
agama, sosial, emosional, kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik
motorik dan seni. Hal ini harus dilakukan dengan menyenangkan dan telaten.
Daftar pustaka
Ngalim
Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 2000), hlm. 139.
Pikiran Rakyat,
9 Januari 2006
Ali, Hasmiyati
Gani, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Quantum Teaching Ciputat Press
Group, 2008
Sutrisno. 2005.
Revolusi Pendidikan di Indonesia. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Arifin muzayyin
, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2011 Abudiin nata,
Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarat : PT Raja Grafindo Persada, 2012
Arifin,
Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bumi Aksara. Jakarta
Komentar
Posting Komentar