Problematika pendidikan islam formal dan non formal,yunia caesar.p
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM
(PENDIDIKAN FORMAL & NON FORMAL)
DI SD NEGERI PEGALONGAN & TPQ NURUL IMAN PEGALONGAN
KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMAS

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur
Mata Kuliah :
Kapita Selekta Pendidikan
Dosen Pengampu :
Rahman Afandi M.S.I
Disusun Oleh :
Yunia Caesar P. 1423305180
6 PGMI D
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PURWOKERTO
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Problematika pendidikan ini.Makalah ini telah
kami susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu. Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
yang sifatnya membangun agar kami dapat memperbaiki pengrjaan makalah untuk
selanjunya.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Pendidikan merupakan sebuah yang tidak dapat dipisahkan dalam
kehidupan umat manusia. Karenanya manusia harus senantiasa mencari dan menuntut
ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah
satu factor penting yang mengharuskan manusia untuk selalu mengembangkan keilmuannya
agar dapat beradaptasi di dunia modern yang kaya akan kemajuan ilmu dan
teknologi. Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di dunia globalisasi maka perlu juga peningkatan pendidikan islam
(agama) agar kita selaku umat islam senantiasa berada pada jalan yang diridhoi
Allah SWT. Serta tidak terpengaruh oleh budaya dan gaya hidup orang-orang barat
yang secara terang-terangan sudah mewabah kepada penduduk Islam dunia khususnya
di Indonesia.
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) adalah unit pendidikan
non-formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan al-Qur’an
sebagai materi utamanya, dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih,
rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis
dari kata TAMAN yang dipergunakan. TPA/TPQ bertujuan menyiapkan terbentuknya
generasi Qur’ani, yaitu yang memiliki komitmen terhadap al-Qur’an sebagai
sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala rujukan segala urusan. Hal
ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an, mampu dan rajin
membacanya, terus menerus mempelajari isi kandunganya, dan memiliki kemauan
yang kuat untuk mengamalkan secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.Tentunya
dalam pelaksanaan belajar-mengajar dalam TPA/TPQ banyak kekurangan-kekurangan,
dan kendala-kendala yang dihadapi. Sehingga tujuan di adakanya TPA/TPQ belum
berjalan sesuai rencana.
Sekolah merupakan sarana dan tempat menuntut ilmu bagi para peserta
didik, juga tempat memperkaya dan memperluas keilmuan peserta didik.Pendidikan
di Indonesia dikatakan maju, hal ini bisa dilihat perkembangan sekolah yang
semakin lama semakin kreatif dalam menyiapkan peserta didiknya untuk menjadi
manusia yang berguna kelak. Oleh sebab itu kita sebagai calon guru harus mampu
menggunakan segala kemampuan kita, sehingga peserta didik bisa menyerap ilmu kita
dengan baik. Jadi kita sebagai calon guru harus profesional dalam sebagai hal
ini misalnya metode yang digunakan harus baik, sesuai dengan materi yang kita
ajarkan, strateginya juga harus sesuai,yang penting dan perlu di miliki oleh
seorang guru ialah mampu merespon peserta didik yang mempunyai banyak problem
yang berbeda- beda. Guru harus bisa mengatasi problem yang dihadapi peserta
didik terutama menyikapi belajar anak didik kita. Apalagi problematika
pendidikan agama disekolah pasti banyak sekali problem- problem itu. Untuk
mengetahui problem apa sajakah yang ada hubungannya dengan peserta didik
beserta solusinya, kita akan membahas secara detail pada pembahasan
selanjutnya.
B.
Rumusan masalah
1.Gambaran
Umum SD Negeri Pegalongan (Lembaga Pendidikan Formal) dan TPQ Nurul Iman
Pegalongan (Lembaga Pendidikan Non Formal)
2.Apa
saja problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri Pegalongan dan problematika pembelajaran
di TPQ Nurul Iman Pegalongan?
3.Bagaimana
solusinya mengenai problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD
Negeri Pegalongan dan pembelajaran di TPQ Nurul Iman Pegalongan?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui gambaran umum SD Negeri Pegalongan (Lembaga Pendidikan Formal) dan
TPQ Nurul Iman Pegalongan (Lembaga Pendidikan Non Formal)
2. Untuk
mengetahui problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri
Pegalongan dan pembelajaran di TPQ Nurul Iman Pegalongan
3. Untuk
mengetahui solusinya mengenai pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD
Negeri Pegalongan dan pembelajaran di TPQ Nurul Iman Pegalongan
BAB II
PEMBAHASAN
A.Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
1.Waktu : Rabu,22 Maret 2017
2.Tempat : SD Negeri Pegalongan (Lembaga
Pendidikan Formal)
dan TPQ Nurul Iman Pegalongan (Lembaga Pendidikan Non Formal)
B.Gambaran
Umum Sekolah
1.Lembaga
Pendidikan Formal
a.Identitas
Sekolah
SD Negeri Pegalongan terletak di Jalan Gunung Tugel Desa Pegalongan
Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas. SD ini merupakan satu-satunnya SD di
Desa Pegalongan. Yang dulunnya ada dua SD, yaitu SD Negeri 1 dan SD Negeri 2
Pegalongan. Sekitar 7 tahun yang lalu, SD ini digabung menjadi satu yang
dinamakan SD Negeri Pegalongan.
SD Negeri Pegalongan ini di Kepalai
oleh orang Pegalongan itu sendiri yaitu Bapak Irianto S,pd. Pada waktu saya
masih SD, beliau Bapak Irianto menjadi guru di kelas 5 dan mulai tahun ini,
Bapak Irianto S.pd menjadi Bapak Kepala Sekolah. Setelah saya lulus SD, Bapak
Irianto S,pd menjadi Kepala Sekolah,tetapi adannya rollingan Kepala Sekolah di
SD se-Kecamatan Patikraja, akhirnya di Tahun ajaran 2016/2017 beliau menjabat
menjadi Kepala Sekolah di SD Negeri Pegalongan.
SD Negeri Pegalongan ini, terdiri atas 15 guru. Dan terdapat
ruangan-ruangan diantarannya : ruang kelas, ruang Kepala Sekolah, ruang guru,
ruang serbaguna, uks, kantin, perpustakaan, ruang olahraga, tempat parkir,
lapangan, tempat penjaga sekolah dan taman sekolah.
2.Visi
dan Misi SD Negeri Pegalongan
Visi
: Terwujudnya sekolah yang bermutu dan berprestasi di bidang akademik dan non
akademik
Misi
: - Melaksanakan pembelajaran PAKEM yang
didasarkan pada Imtaq dan ICT
- Menerapkan manajemen
partisipasi dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan instansi yang terkait
- Bersikap inovatif,inisiatif dan kreatif
- Menciptakan sekolah yang sejuk dan harmonis
3.
Ekstrakulikuler
SD Negeri Pegalongan ini mengadakan kegiatan-kegiatan guna
menyalurkan bakat para siswa, yang nantinnya bisa dikembangkan. Kegiatan ekstrakulikuler
diantarannya : hadroh,pramuka,olahraga,kesenian. Kegiatan ini bebas diikuti
oleh semua siswa dari kelas 1-6.
4.Prestasi
SD Negeri Pegalongan ini banyak meraih prestasi. Diantarannya :
·
Juara
1 Hadroh tingkat SD se- Kecamatan Patikraja
·
Juara
1 Nyanyi Tunggal Putri tingkat SD se-Kecamatan Patikraja
·
Juara
1 Pesta Siaga Putra tingkat SD/MI se-Kecamatan Patikraja
·
Juara
1 Bulutangkis Putri tingkat SD/MI se-Kecamatan Patikraja
·
Juara
1 kaligrafi Putri tingkat SD/MI se-Kecamatan Patikraja
Dan masih banyak kejuaraan lainnya.
2.Lembaga
Pendidikan Non Formal
a.
Identitas Sekolah
Gambaran
Umum TPQ Nurul Iman Pegalongan
TPQ Nurul Iman terletak di Jalan Gunung Tugel Desa Pegalongan
Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. TPA ini berlangsung di
Masjid Nurul Iman. TPQ ini berdiri sejak masjid dibangun. Didirikan oleh takmir
masjid Nurul Iman yang pada saat itu di
ketuai oleh Bapak Alm H.Said Sajudi, karena beliau meninggal. Digantikan oleh
anaknya yaitu Bapak Imam Muntohar, beliau juga Pegawai di Kantor Departemen
Agama (DEPAG) Kabupaten Banyumas, hingga sekarang. Masjid ini letaknya sangat
strategis, yakni terletak di Jalan menuju arah Purwokerto. Masjid ini berwarna
hijau, ukirannya sedikit tetapi cukup
indah dengan Kubahnya yang tidak terlalu besar. Masjid ini sangatlah cocok
untuk diadakanya kegiatan belajar mengajar, karena selain letak yang strategis
juga kebersihanya terjaga, dan keadaan sekitarnya tidak berbahaya bagi
anak-anak. Disekitar masjid ditumbuhi pepohonan, dan terdapat permainan
anak-anak. Masjid ini cukup luas. Dan digunakan sebagai pusat jama.ah sholat
Idul Fitri dan Idul Adha. Disekitar masjid juga terdapat orang yang berjualan,
agar para murid bisa membeli makanan kapanpun.
2.
Visi dan Misi TPQ Nurul Iman Pegalongan
Visi
: Terbentuknya generasi muslim yang
fashih membaca Al Qur’an, berakhlaq Qur’ani dan berpengetahuan luas demi
menyongsong masa depan yang gemilang
Misi : - Menanamkan
Dasar-Dasar Keimanan dan Ketaqwaan Kepada Allah Dan Rasul-Nya
- Mendidik Santri
untuk membaca Al-Qur’an secara Murottal Mujawwad
- Mengajarkan
Penulisan Al-Qur’an secara Baik dan Benar
- Memberikan
pengetahuan tentang wawasan KeIslaman
3.Kegiatan
di TPQ
TPQ
Nurul Iman ini sering mengadakan berbagai kegiatan diantaranya :
1.
Perlombaan
antar siswa di TPQ Nurul Iman
Diantarannya lomba adzan dan Iqamah, hafal suratan pendek, hafalan
doa sehari-hari
2.
Kirab
khataman (Santri yang sudah khatam IQRA dan Al Qur’an) di Desa Pegalongan
3.
Manasik
Haji, biasannya dilakukan Gebyar TPQ se-Kecamatan Patikraja
4.
Workhsop
Ustad dan Ustadzah, biasannya dilakukan Ustad/Ustadzah TPQ se-Kecamatan
Patikraja
5.
Khataman
santri se-Kabupaten Banyumas yang diselenggarakan di GOR Satria Purwokerto
C.
Hasil Penelitian
1.
Lembaga Pendidikan Formal
Pada hari, Rabu 22 Maret 2017 saya observasi di SD Negeri
Pegalongan. Dalam observasi tersebut, saya fokus ke mata pelajaran Agama Islam.
Ternyata terdapat problem-problem dalam pembelajarannya.
Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dipahami sebagai usaha
sadar dan terencana untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar mengetahui, meyakini, mengamalkan, serta
menyampaikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian PAI juga
dapat dipahami dari keragaman makna pendidikan Islam. Maka dari pengertian di
atas, PAI dapat berupa: a) Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau suatu
lembaga untuk membantu seseorang atau anak didik dalam menanamkan dan atau
menumbuh kembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya. b) Segenap fenomena atau
peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah
tertanamnya dan atau tumbuh kembangnya ajaran Islam dan nilai-nilainya pada salah
satu atau beberapa pihak.[1]
a.
Pasal 30 (1) undang – undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional ( Sisdiknas) dikatakan bahwa “Pendidikan keagamaan diselenggarakan
oleh pemerintah dan / atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama sesuai dengan
peraturan perundang- undangan.” [UU RI No.20/ 2003, pasal 30 (1)]. Pasal ini
menunjukkan legalitas eksistensi pendidikan agama Islam adalah kuat dan dijamin
oleh konstitusi negara.
b.
Pendidikan keagamaan berfungsi “ Mempersiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat memahami dan mengamalkan nilai- nilai ajaran agamanya dan / atau
menjadi ahli ilmu agama.” ( UU RI No. 20/ 2003, pasal 30 ayat 2).
c. Pendidikan
keagamaan “ Dapat dilaksanakan pada jalur pendidikan formal, non formal dan
informal.”[ UU RI No. 20 / 2003, pasal 30 ( 3)].[2]
Sebab manakala ketiga lembaga tersebut tidak terintegrasi satu sama
lain, maka pendidikan islam tidak akan berjalan dengan mulus. Sebagai contoh :
dalam satu keluarga yang seseorang anak dapat pendidikan agama islam dari orang
tuanya, tetapi disekolanya mendapat pendidikan agama lain, maka hal itu akan
dapat menyebabkan timbulnya konflik psikis, yang pada giliranya ia menjadi
binggung ( ambivalen), bahkan lebih fatal ia menjadi jauh dari agama.
a.
Problematika Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Pegalongan
Pokok permasalahan yang menjadi sumber utama problematika
pendidikan agama di sekolah selama ini hanya dipandang melalui aspek kognitif
atau nilai dalam bentuk angka saja, tidak dipandang bagaimana siswa didik
mengamalkan dalam dunia nyata sehingga belajar agama sebatas menghafal dan
mencatat. Hal ini mengakibatkan pelajaran agama menjadi pelajaran teoritis
bukan pengamalan atau penghayatan terhadap nilai agama itu sendiri. Adapun masalah paling utama yang dihadapi para guru
agama dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri
Pegalongan diantarannya :
1.
Masalah Peserta Didik.
Peserta didik dalam suatu lembaga pendidikan tentu berasal dari
latar belakang kehidupan beragama yang berbeda-beda. Ada siswa yang berasal
dari keluarga yang taat beragama, namun ada juga yang berasal dari keluarga
yang kurang taat beragama, dan bahkan ada yang berasal dari keluarga yang tidak
peduli dengan agama. Bagi anak didik yang berasal dari keluarga yang kurang
taat atau tidak peduli sama sekali terhadap agama, perlu perhatian yang serius.
Sebab jika tidak, maka anak didik tidak akan peduli terhadap pendidikan agama,
lebih parah lagi mereka menganggap remeh pendidikan agama. Sikap ini akan
sangat berbahaya, kendatipun demikian, tentu ada faktor-faktor yang
mempengaruhi peserta didik seperti; minat belajar, keluarga, lingkungan, dan
lain sebagainya.
2.
Masalah Lingkungan Belajar.
Di era multi peradaban dan teknologi dan informasi yang tidak
dicegah kebeadaannya menyebabkan semua itu mempengaruhi psikologis lingkungan
belajar, baik siswa, tenaga pendidik dan kependidikan serta stekholder setiap
lembaga pendidikan.Pengaruh dari lingkungan belajar yang tidak kondusif ini
sangat mempengaruhi minat belajar, dekadensi moral, serta menimbulkan
kekhawatiran para orangtua siswa dan masyarakat terhadap pendidikan anak-anak
mereka khususnya kebiasaan beragama mereka dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Masalah Kompetensi Guru.
Pada dasarnya guru adalah tenaga pengajar sekaligus tenaga pendidik
profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan latihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Sesuai UU RI No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2.Dalam perspektif pendidikan
Agama Islam di Sekolah, guru seringkali mengalami kendala dalam menanamkan
pembiasaan ajaran Islam di sekolah. Hal ini semata-mata disebabkan karena guru
tidak memiliki kompetensi yang matang, serta juga tidak didukung oleh
penguasaan konsep internalisasi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu umum oleh
guru-guru bidang studi lainnya.
4.
Masalah Metode
Metode adalah cara atau strategi bahkan juga pendekatan yang
dikuasai pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik
sehingga sasaran yang diharapkan dapat tercapai. Banyak sekali metode
pendidikan yang dapat dilakukan atau diterapkan dalam menyampaikan pembelajaran
pendidikan agama. Tetapi sangat disayangkan bahwa masih banyak guru agama yang
tidak menguasai berbagai metode pembelajaran aktif yang sebenarnya bisa dipakai
dalam menyajikan pelajaran pendidikan agama. Agar pendidikan agama dapat
mencapai hasil sesuai yang diharapkan, maka setiap guru agama harus mengetahui
dan menguasai berbagai metode pembelajaran dan pendekatan. Namun pada
kenyataannya, pelajaran pendidikan agama di sekolah masih dominan menggunakan
metode ceramah. Guru juga harus kreatif mengaplikasikan materi pendidikan agama
sesuai dengan situasi murid. Gaya bercerita, diskusi, problem-solving
(pemecahan masalah), dan simulasi adalah alternatif positif yang dapat
dimasukkan dalam metode yang tepat untuk pembelajaran agama.[3]
5.
Masalah Evaluasi.
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang sangat
penting. Dengan evaluasi, guru dapat mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran
yang dilaksanakan. Evaluasi yang baik adalah evaluasi yang dapat mengukur segi
kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Kebanyakan evaluasi yang
dilakukan selama ini hanyalah mengukur kognitif siswa saja, sedang afektif dan
psikomotoriknya terabaikan. Hasil evaluasi kognitif tersebut dimasukkan ke
dalam raport siswa, maka kemungkinan akan terjadi penilaian yang kurang
obyektif. Adakalanya siswa yang rajin beribadah lebih rendah nilainya daripada
siswa yang malas beribadah. Seharusnya kegiatan evaluasi disusun secara
sistematis dan lengkap oleh guru pendidikan agama Islam. Selain tes tulis, tes
lisan dan praktik yang dilakukan sebagai alat evaluasi, maka skala sikap
diperlukan untuk mengevaluasi sikap beragama peserta didik. Namun kenyataannya
masih banyak guru pendidikan agama Islam yang belum menguasai teknik evaluasi
pendidikan agama Islam secara benar.
6.
Jam Pelajaran PAI Hanya 2 Jam
Permasalahan PAI di sekolah yang paling krusial salah satunya ialah
jam belajar yang minim. Waktu yang hanya 2 jam dalam 1 minggu itu tentu tidak
cukup untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Baik itu tujuan kurikuler, hingga
ke tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di
sekolah penuh tantangan, karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam
di sekolah hanya 2 jam pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh
dalam pendidikan yang hanya 2 jam pelajaran. Jika sebatas hanya memberikan
pengajaran agama Islam yang lebih menekankan aspek kognitif, mungkin guru bisa
melakukannya, tetapi kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya
kognitif tetapi juga sikap dan keterampilan, guru akan mengalami kesulitan.
Kemampuan guru dalam menerjemahkan dan kemudian menyusun indikator
ketercapaian pembelajaran pada silabus sejauh ini hanya mengedepnakan aspek
kognitif dan psikomotorik saja. Sedangkan aspek afektif nyaris tidak
tersentuh.Secara gamblang, dapat kita lihat dari ketercapaian yang diperoleh
peserta didik misalnya pada materi shalat, masih sebatas pengetahuan tantang
tata cara shalat yang benar serta bagaimana mempraktekkannya. Esensi serta
hikmah shalat masih belum menancap kuat pada sanubari peserta didik, dan belum
terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari.
7.Dari
proses belajar-mengajar, guru PAI lebih terkonsentrasi persoalan-persoalan
teoritis keilmuan yang bersifat kognitif semata dan lebih menekankan pada
pekerjaan mengajar/ transfer ilmu.
8. Kegiatan
belajar mengajar PAI seringkali terkonsentrasi dalam kelas dan enggan untuk
dilakukan kegiatan praktek dan penelitian di luar kelas.
9. Penggunaan
media pengajaran baik yang dilakukan guru maupun peserta didik kurang kreatif,
variatif dan menyenangkan.
b.Upaya
untuk mengatasi berbagai problem Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Pegalongan
Pendidikan agama Islam pada hakikatnya adalah upaya transfer
nilai-nilai agama, pengetahuan dan budaya yang dilangsungkan secara
berkesinambungan sehingga nilai-nilai itu dapat menjadi sumber motivasi dan
aspirasi serta tolok ukur dalam perbuatan dan sikap maupun pola berpikir.
Sementara tekad bangsa Indonesia yang selalu ingin kembali kepada Pancasila dan
UUD 1945 secara murni dan konsekuen sangat kuat. Berdasarkan tekad itu pulalah
maka kehidupan beragama dan pendidikan agama khususnya semakin mendapat tempat
yang kuat dalam organisasi dan struktur pemerintahan.Kelahiran pendidikan agama
yang sekarang ini kita kenal menjadi mata pelajaran berakar dari pendidikan
sekuler minus agama yang dikembangkan pemerintah penjajah. Usaha menghidupkan
kembali eksistensi pembelajaran agama ini menemukan momentumnya setelah terbit
UU No. 4 Tahun 1950 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan
Menteri Agama tanggal 16 Juli 1951 yang menjamin adanya pendidikan agama di
sekolah umum.Adapun berbagai pendekatan yang dilakukan diantarannya :
a) Pendekatan
keimanan, yaitu memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan
pemahaman adanya tuhan sebagai sumber kehidupan makhluk di alam ini.
b) Pendekatan
pengalaman, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhak dalam
menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan.
c) Pendekatan
pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepaa peserta didik untuk membiasakan
sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran islam dan budaya bangsa dalam
menghadapi masalah kehidupan.
d) Pendekatan
rasional yaitu memberikan peran pada akal peserta didik dalam memahami dan
membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta kaitannya dengan
perilaku yang baik dan buruk dalam kehidupan.
e) Pendekatan
emosional yaitu upaya menggugah perasaan peserta didik dalam menghayati
perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
f) Pendekatan
fungsional yaitu menyajikan bentuk semua standar materi (Al-Qur’an, keimanan,
akhlak, fiqih, dan tarikh) dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari dalam arti yang luas.
g) Pendekatan
keteladaan yaitu menjadikan figur guru agama dan nonagama serta semua pihak
sekolah sebagai cermin manusia yang berkepribadian.
Guru sebagai pilar penting dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
perlu mendapat perhatian dari semua kalangan, baik pemerintah, tokoh pendidikan
serta masyarakat lainnya yang bergerak di bidang pendidikan. Lembaga Pendidikan
Tinggi yang mengelola fakultas ilmu keguruan dan pendidikan baik lembaga
pendidikan tinggi umum maupun lembaga pendidikan tinggi agama (IAIN) perlu
menyiapkan sebuah konsep kurikulum yang bertujuan menyiapkan tenaga pendidik
(guru) yang benar-benar siap pakai di semua jenjang pendidikan di Indonesia.
Dewasa ini sangat hangat dibicarakan tentang profesionalisme guru atau yang
sering kita dengar dengan sertifikasi guru. Kebijakan pemerintah tentang
sertifikasi guru merupakan kebijakan fenomenal. Disatu sisi kebijakan tersebut
memberikan angin segar bagi para guru karena dengan itu guru menerima
penghasilan tambahan satu kali gaji pokok. Tetapi pada kenyataannya, guru yang
sudah lulus sertifikasi seringkali tidak melaksanakan tupoksinya secara baik
dan bertanggung jawab, sehingga bisa dikatakan bahwa kebijakan pemerintah
tersebut menghabiskan anggaran negara yang begitu besar dan hasilnya tidak
maksimal.
Sebagai ujung tombak pendidikan agama di sekolah, guru harus
memiliki totalitas untuk anak didik.
Masalah jam pelajaran yang hanya 2 jam dalam 1 minggu dapat disiasati dengan
cara menambah pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pembelajaran ekstra
kurikuler dan tidak hanya pembelajaran formal di sekolah. Pembelajaran
dilakukan bisa di sekolah, yaitu di kelas atau di mushala. Program pendidikan
agama Islam ekstrakurikuler ini dapat berupa Pesantren Kilat, Rohani Islam
(Rohis).Cara ini memang membutuhkan tambahan fasilitas, waktu, dan tenaga guru,
tapi itulah tantangan guru yang tidak hanya mengajar tetapi memiliki semangat
dakwah untuk menyebarkan ilmu di mana pun dan kapan pun. Untuk itu diperlukan
koordinasi dan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tua.
Selain itu, inovasi juga perlu dilakukan oleh lembaga sekolah guna
mengembangkan kurikulum yang ada, pun manajemen pendidikan agama Islam berbasis
sekolah. Artinya, salah satu strategi yang dapat dilakukann ialah dengan
menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif (Islami).Dengan demikian,
pembelajaran PAI tidak hanya berbasis kelas, tetapi juga berbasis sekolah.Namun,
dalam melakukan inovasi hal-hal yang mesti diperhatikan antara lain ialah fokus
pada tujuan, Adikuasa Komunikasi, Perimbangan Kekuatan Optimal Penyediaan
Sumber-Sumber Organisasi, Dimensi Ketersangkutpautan (cohesivness), Dimensi
Moral, Keinovasian, Adaptasi, Otonomi, Pemecahan Masalah.[4]
1.
Fokus
pada tujuan (goal focus)
Penentuan fokus tujuan mesti ditentukan oleh lembaga pendidikan.
Semua pihak baik itu kepala sekolah, guru mata pelajaran, siswa, karyawan,
orang tua siswa, dan masyarakat umum harus tau dengan jelas pada fokus tujuan
yang dirancang dan hendak dicapai. Sehingga, pada pelaksanaannya pihak-pihak
tersebut saling bekerja sama guna menciptakan lingkungan yang mendukung
terhadap upaya pencapaian tujuan.
2. Adikuasa Komunikasi
Lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan komunikasi yang baik,
entah itu vertikal maupun horizontal. Dari pihak pimpinan sekolah kepada guru,
dari guru kepada siswa, antar sesama guru dan karyawan, maupun dari pihak
lembaga pada masyarakat.
3.Perimbangan Kekuatan Optimal
Upaya menyeimbangkan kekuatan di seluruh pihak lembaga harus
merupakan upaya agar tidak terjadi ketimpangan di salah satu pihak, dan
kemajuan di pihak lain.
4.Penyediaan Sumber-Sumber Organisasi
Sumber-sumber organisasi merupakan sarana guna mengaktualisasikan
potensi organisasi.
5.Dimensi Ketersangkutpautan (cohesivness)
Rasa saling membutuhkan dan saling ketergantungan menjadi identitas
sebuah organisasi. Termasuk lembaga pendidikan yang disebut sekolah. Dimensi
ini menjadikan masing-masing pihak bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.[5]
Menurut Al Nahwawi, metode pengajaran yang sesuai dengan Al Qur’an
dan Al Hadist meliputi :
1)
Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi: dialog yang mengarah pada tujuan pendidikan.
2)
Metode kisah Qur’ani dan Nabawi: kisah menarik dan diambil keteladanannya untuk
dijadikan panutan.
3)
Metode Amtsal: membaca teks untuk mempermudah siswa dalam memahami suatu
konsep.
4)
Metode Teladan: menggunakan keteladanan dalam memnanamkan penghayatan dan
pengamalan materi tersebut.
5)
Metode Pembiasaan: pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga
menjadi suatu kebiasaan.
6)
Metode Ibrah dan Mauziah: menelaah ibrah dari kisah dengan nasihat yang lembut
dan menyentuh.
7)
Metode Targhib dan Tahrib: didasarkan kepada ganjaran dan hukuman.
Dalam hal ini, menurut Seyyed Hossein Nasr bahwa guru bukan sekedar
menjadi penyampai ilmu (mu’allim), akan tetapi lebih dititikberatkan sebagai
murobbi untuk melatih jiwa dan kepribadian, murobbi akan selalu mengawasi
perkembangan materi yang disampaikan dalam perkembangan akhlak siswa didik.
Perlunya kesadaran siswa didik sebagai khalifatullah fil ‘ardh akan membangun
semangat bahwa agama tidak sebatas ritual saja. Akan tetapi, akan membangun
toleransi, menjunjung kebenaran, dan keadilan. Dengan hal ini, agama berfungsi
sebagai media penyadaran.Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi dalam pendidikan
agama, yakni:
1)
Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan Allah.
Apakah
pendidikan agama mampu diterapkan oleh siswa didik untuk beribadah kepada
Allah.
2)
Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan masyarakat. Dengan
mempelajari pelajaran agama diharapkan siswa mampu bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar.
3)
Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan alam
Untuk bisa berinteraksi serta memanfaatkan kekaayaan alam sesuai
dengan tuntunan agama.Sehubungan dengan itu, guru harus mampu mengevaluasi
peserta didiknya secara terus-menerus, menyeluruh, dan ikhlas walaupun peran
dan wewenangnya terbatas dapat bermakna dalam membina dan membimbing generasi
penerus bangsa dari kegersangan rohani.
2.Lembaga
Non Formal (TPQ Nurul Iman Pegalongan)
Pada Rabu, 22 Maret 2017 saya observasi di TPQ Nurul Iman Pegalongan,
di TPQ saya menemui Ketua TPQ Nurul Iman
yaitu Bapak Imam Muntohar. Saya menanyai berbagai masalah atau kendala di TPQ
Nurul Iman Pegalongan, dan kebetulan, saya pernah menjadi Ustazah di TPQ Nurul
Iman.
a.Keadaan
Guru (Ustadz dan Ustadzah)
Di TPA ini tentunya berasal dari desa ini sendiri . Jumlahnya
memaang tidak terlalu banyak, hanya 5 uztadzah dan 1 ustadz dan ditambah para
santri yang berjumlah sekitar 85 orang. Meskipun melihat jumlah murid yang terlalu banyak. Bukan berarti menjadi
penghalang para ustadz, ustadzah dan juga para santri untuk senantiasa
mengabdikan dirinya untuk mengajar serta mengamalkan ilmu-ilmu yang mereka
punya.
Mudah-mudahan dengan keberlangsugan belajar mengajar di TPA Nurul
Iman meskipun dengan kendala-kendala yang ada yaitu muridnya yang banyak dengan
tenaga penggajar yang sedikit. Para pengajar berniat untuk, mengajar kan anak-anak
tersebut sampai lancar belajar Al-Qur’an dan juga pelajaran-pelajaran lainnya
yang menyangkut dengan pelajaran agama islam.
b)
Keadaan Santri
Murid di TPA ini bisa dibilang begitu banyak, jumlahnya yakni Kelas
A sekitar 50 santri, sedangkan Kelas B sekitar 35 santri.Kelas A mulai umur
sekitar 5-7 tahun, sedangkan Kelas B sekitar 9-11 tahun. Melihat Kelas A dengan
keramaiannya, para Ustad/Ustadzah tetap sabar dalam mendidiknya. Adapun program
mengajar di TPQ Nurul Iman ini, dari Kelas A dimulai dari IQRA 1-3, Sedangkan
di Kelas B mulai IQRA 4 sampai Al-Quran. Dikelas A merupakan awal dari belajar
di TPQ, melatih benar-benar siswa yang tadinnya belum mengenal huruf Hijaiyah.Di
TPQ ini hampir semuanya sudah bisa mengenal huruf Hijaiyah. Namun di Kelas A
lumayan membaca IQRA harus perlu latihan, karena anak-anak masih kebanyakan
dari TK, sedangkan dari Kelas B sepertinnya sudah cukup lancar dalam menghafal
Huruf Hijaiyah, tetapi sebagian ada yang sudah lumayan lancar dan sebagian lagi
belum begitu lancar dalam membaca Al-Qur’an. Siswa-siswi di TPQ ini meskipun
banyak tetapi mereka tetap semangat dalam mengaji terutama dalam
hafalan-hafalan surat-surat pendek seperti Juz ‘Amma.[6]
c.Kegiatan
Belajar Mengajar TPQ Nurul Iman Pegalongan
Pelaksanaan pembelajaran di TPA Nurul Iman sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan TPQ-TPQ yang lain, dimana anak-anak atau para santrinya masih
senang bermain, ini dikarenakan mereka masih anak-anak, tidak sedikit dari
mereka masih berumur sekitar 3-7 tahun dan beberapa diantara mereka berumur 10
tahun atau sekitar kelas 5 SD .Dalam ilmu psikologi pendidikan, permainan
adalah salah satu bentuk aktifitas sosial yang dominan pada awal masa
anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya diluar rumah
bermain dengan teman-temanya di banding terlibat dalam aktifitas lain. Jadi
permainan bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktifitas nya.[7]
Selain mengkombinasikan bermain dalam kegiatan belajar atau
mengaji, para pengajar juga mengajari bernyanyi. Nyanyian-nyanyian yang
diajarkan kepada para santri ialah nyanyian yang bersifat pendidikan. Nyanyian
yang digunakan ialah nyanyian anak-anak yang liriknya telah di rubah oleh para
pengajar. Mereka memasukan lirik-lirik yang mudah diterima dan bernuansakan dan
menekankan kepada pendidikan akhlak para santri, sehingga dengan itu para
santri akan senang dan mudah menerima pesan yang hendak disampaikan oleh para
pengajar.
Ustadz dan ustadzah memulai TPQ nya pada pukul 16.00 wib, tepatnya
setelah shalat ashar. Para santri dibagi ke beberapa kelompok belajar.
Pembagian kelompok belajar ini di sesuaikan dengan kemampuan membaca iqra’ yang
sedang dicapai oleh mereka. Begitu pula dengan santri yang telah bisa membaca
Al-Qur’an, mereka pun di jadikan satu. Hal ini bertujuan agar memudahkan para
ustadz untuk menyampaikan meterinya dan demi tercapainya efektifitas
pembelajaran. Hal ini dilakukan ketika mengajarkan baca tulis Al-Qur’an dan
Iqra’.Berbeda dengan kegiatan diatas, para santri di jadikan satu ketika para
ustadz menyampaikan materi Fikh, Akhlak dan cerita para Nabi. Hal ini dilakukan
agar materi yang disampaikan tidak berbeda-beda. Karena melihat para ustadz
yang di datangkan itu memiliki aliran-aliran tersendiri. Dikhawatirkan
anak-anak akan salah menangkap materi yang di ajarkan.[8]
Para pengajar atau ustadzah TPQ Nurul Iman menggunakan metod active
learning dimana para santrinya di tuntut untuk aktif mengikuti kegiatan
pembelajaran yang berlangsung. Metode ini digunakan dengan mengkombinasikan
beberapa permainan anak-anak. Dengan metode ini, diharapkan para santri TPQ
Nurul Iman menjadi santri yang aktif bergerak sehingga dapat membantu
perkembangan psikomotorik pada anak. Sehingga sistem/metode pembelajaran
tersebut dapat membantu menyalurkan kebutuhan anak yang sedang menalami
perkembangan motoriknya.
Para pengajar atau ustadzah TPQ Nurul Iman menggunakan metod active
learning dimana para santrinya di tuntut untuk aktif mengikuti kegiatan
pembelajaran yang berlangsung. Metode ini digunakan dengan mengkombinasikan
beberapa permainan anak-anak. Dengan metode ini, diharapkan para santri TPQ
Nurul Iman menjadi santri yang aktif bergerak sehingga dapat membantu
perkembangan psikomotorik pada anak. Sehingga sistem/metode pembelajaran
tersebut dapat membantu menyalurkan kebutuhan anak yang sedang menalami
perkembangan motoriknya.[9]
Pelaksanaan kegiatan belajar disini mengunakan metode bandungan
atau sering disebut juga dengan istilah .Walaupun TPQ ini sangat sederhana,
tentunya dalam kegiatan belajar mengajar adanya suatu target yang harus
dilakukan oleh para siswa. Target tersebut yakni mampu menghafal dan membaca
huruf hijaiyah, serta mampu menghafal doa-doa sehari-hari seperti doa kebaikan dunia ahirat, doa untuk
kedua orang tua, doa sebelum makan, doa sesudah makan, doa akan tidur, doa bangun
tidur. Dan menghafal suratan-suratan pendek seperti al-Fatihah, Surat an-Naas,
Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat al-Lahab, Surat An-Nash dan seterusnya,
setelah para siswa-siswi menghafal surat-surat pendek kemudian para ustadz dan
ustadzah mengetes para murid sampai bisa setelah semua selesai baru para muridpun
dipersilahkan untuk pulang. Kegiatan pembelajaran di TPA Nurul Huda ini berlangsung
dari pukul 15.00-17.00,dari hari senin sampai hari kamis sedangkan hari jum’at libur. Sabtu minggu tetap berangkat.
d.Masalah
atau kendala yang ada di TPQ Nurul Iman Pegalongan
Di TPQ Nurul Iman ini ada beberapa kendala ataupun masalah yang
perlu segera di atasi baik oleh para ustadz dan ustadzah dan juga para santri
yang ikut serta ambil bagian dalam proses balajar mengajar di TPQ Nurul Iman.
Diantara masalah yang ada yaitu sebagai berikut:Dalam dunia pendidikan,
masalah-masalah pendidikan tidak pernah lepas dari pendidikan itu sendiri baik
itu berkenaan dengan teknis pelaksanaan, tenaga pendidik, lingkungan
sekitar, materi, metode pendidikan
hingga pendanaan pendidikan.
Dibawah ini akan di sebutkan tentang beberpa problematika
pelaksanaan pendidikan di TPQ Nurul Iman Pegalongan, berdasarkan hasil
wawancara dengan ustadz Imam Muntohar selaku Ketua penyelenggara TPQ Nurul Iman
Pegalongan sebagai salah satu tim pengajar di TPA tersebut diantarannya :
1. Anak-anak
yang susah untuk di atur atau bermain sendiri
2. Ketika
para santri hendak menunggu gilirannya membaca al-qur’an, beberapa diantara
mereka asyik bermainan dengan temannya
3. Tidak
adanya kurikulum
4. Minimnya
tenaga pengajar
5. Santri
tidak mandiri / masih ditunggui oleh orangtuannyaa.
6.Tidak
ada kejelasan mengenai pelajaran apa saja yang diajarkan kepada siswa-siswi
pada proses belajar mengajar di TPQ. Secara kurikulum , memang belum ada urutan
kurikulum yang runtun secara baik yang dibuat oleh pengelola TPQ ini.
7.Sarana
dan prasarana seperti Lcd, belum ada
8.
Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPQ
9. Lingkungan
sekitar yang kurang kondusif dan suara
bising dari kendaraan bermotor menjadi kendala juga dalam melaksanakan
pembelajaran di TPQ Nurul Iman itu. Mengingat, memang letak masjid yang berada
di pinggir jalan besar yang selalu ramai dengan kendaraan, baik siang maupun
malam.[10]
e.Pemecahan
Masalah yang ada di TPQ Nurul Iman Pegalongan
Pemecahan masalah dari saya yang sekiranya bisa diambil solusi
untuk mengatasi masalah ataupun kendala di TPQ Nurul Iman yaitu sebagai berikut
:
a.
Mengenai anak-anak yang susah diatur
Mengenai Anak-anak yang susah diatur. Untuk mengatasi permasalahan
ini, di butuhkan kecerdasan dalam memberikan pendidikan itu sendiri. Karena
anak-anak yang masih berusia di bawah 5 tahun akan lebih suka bermain sehingga
berkesan susah untuk diatur. Hal itu terjadi karena masa-masa yang sedang
dialami oleh anak anak itu ialah masa-masanya bermain. Dengan adanya keadaan seperti ini, ini ,menuntut
para pengajar untuk memiliki kemampuan mengajara yang baik.
b. Mengenai
Tenaga Pendidik Yang Minim
Mengenai tenaga pengajar yang minim, karena kebanyakan pengajar
dari para pemuda. Akhirnya para pengajar dari orangtua-orangtua untuk
menyempatkan untuk mengajar. Sehingga terjadinya keminiman tenaga pengajar.
Seharusnya para pemuda untuk lebih giat dalam mengajarnya, walaupun dengan
kesibukannya sendiri-sendiri, tetapi harus bisa meluangkan waktunnya untuk
tetap bisa mengajar. Karena siapa lagi yang menjadi penerus bangsa, kalau bukan
kita semua ini. Dan kalau tidak dibuat jadwal dalam mengajarnya. Sehingga TPQ
itu akan hidup, masjib pun menjadi ramai.
c.Masalah
kurikulum yang belum jelas.
Mengenai masalah ini bisa di rundingkan atau dirapatkan oleh
pengelola TPQ untuk segera membuat kurikulum yang jelas dan runtun secara baik
untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan dalam pembelajaran. Dan
agar siswa-siswi pun tidak kebingungan dalam proses belajar mengajar maka dari
itu dibutuhkan tanggapan yang serius dari pihak pengelola mengenai kurikulum di
TPQ.
Mengenai kurikulum, sebenarnya kurikulum tidak begitu penting di
TPQ ini, mengingat TPQ itu sendiri bukan merupakan lembaga pendidikan non
formal yang harus memiliki struktur yang sistematis. Sehingga pelaksanaanya
tidak terikat dengan kurikulum, bisa mengajarkan apa saja sesuai dengan
kebutuhan saat itu. Jadi, jalankan saja TPQ itu sebagai mana mestinya, tidak
perlu terpaku dengan tidak adanya kurikulum yang mengatur, karena tanpa
kurikulum pun TPQ itu mampu memberikan pendidikan yang baik untuk perkembangan
anak-anak sekitar
d.Mengenai
sarana dan prasarana yang belum ada
Untuk menunjang proses belajar mengajar di TPQ, Hendaknya pemegang administrasian TPQ haruslah dikelola dengan
baik. Walaupun ini forum yang belum besar, tapi hendaknya berusaha agar bisa
melakukan hal yang terbaik untuk TPQ. Agar tujuan TPQ tersebut berjalan dengan
baik.
e. Mengenai
cara mempromosikan TPQ Nurul Iman
Ke halayak masyarakat belum begitu diperhatikan yang menyebabkan
masyarakat kurang merespon adanya TPQ ini, nah agar masyarakat semakin mengenal
TPQ Nurul Iman maka dalam hal promosi harus lebih ditingkatkan lagi dengan cara
para ustadz atau ustadzah harus bisa lebih dekat masyarakat dan bersosilisasi
mengenai adanya TPQ Nurul Iman yang sangat menunjang sekali untuk kegiatan
belajar mengajar ngaji bagi anak-anak.
f.Mengenai
kendala belum adanya penyaluran bakat siswa-siswi di TPQ
Dalam kegiatan pembelajaran siswa, belum adanya penyaluran bakat
siswa, seperti di adakanya lomba sepak bola, lomba qiro’ah, lomba kelereng, dan
lomba-lomba lainya yang mampu membuat anak kecil senang untuk melakukanya. Dan
solusi yang baik untuk pemecahan masalah ini adalah hendaknya selain kegiatan
belajar mengajar di dalam ruang, hendaknya di adakan kegiatan belajar mengajar
diluar ruangan agar siswa mampu mencari kegiatan lain yang menyenangkan.
g.Mengatasi
Keramaian santri agar tetap giat dalam belajarnya
الصالح adalah suatu metode
pendidikan islam dengan cara pendidik memberikan contoh-contoh teladan yang
baik kepada peserta didik, agae ditiru dan dilaksanakan. Metode ini sangat
tepat apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar akhlak, karena untuk
pelajaran akhlak dituntut adanya contoh atau teladan dari pihak pendidik/guru
itu sendiri. Lebih lebih anak yang masih berusiah dibawah 10 tahun, yang masih
didominasi oleh sifat-sifat imitasinya terhadap apa yang didengar, dilihat dan
diperbuat oleh orang dewasa yang ada disekitarnya.
metode الطريقة بالقدوة الصالحة
itu juga digunakan dalam pembelajaran di
TPQ Nurul Iman tersebut. Melihat anak-anak atau para santrinya kebanyakan
berumur dibawah 10 tahun. Sehingga para pendidiknya pun di tuntut untuk
memberikan teladan dan contoh yang baik dalam mengajar.Dalam psikologi
pendidikan, anak yang berusia 2-5 tahun, perkembangan motorik pada anak akan
mengalami peningkatan. Oleh karrna itu dibutuhkan suatu wadah yang bisa
membantu perkembangan motorik anak. Dalam hal ini, sistem atau metode
pembelajaran yang aktif akan sangat membantu perkembangan motorik pada
anak-anak. [11]
Para pengajar atau ustadzah TPQ Nurul Iman menggunakan metode
active learning dimana para santrinya di tuntut untuk aktif mengikuti kegiatan
pembelajaran yang berlangsung. Metode ini digunakan dengan mengkombinasikan
beberapa permainan anak-anak. Dengan metode ini, diharapkan para santri TPQ
Nurul Iman menjadi santri yang aktif bergerak sehingga dapat membantu
perkembangan psikomotorik pada anak. Sehingga sistem/metode pembelajaran
tersebut dapat membantu menyalurkan kebutuhan anak yang sedang menalami
perkembangan motoriknya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Lembaga Pendidikan Formal (SD Negeri Pegalongan)
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam
(PAI) ialah upaya mendidikan agama Islam terhadap peserta didik sehingga
nilai-nilai ajaran Islam menginternal dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pelaksanaan PAI di sekolah berlandaskan Pancasila, UUD 1945, UU tentang sistem
pendidikan nasional, serta peraturan pemerintah tentang pendidikan agama.Namun,
permasalahan yang terjadi pada tataran implementasi membuat PAI di sekolah
belum mampu mencapai tujuannya secara komprehensif. Masalah mulai jam pelajaran
yang hanya 2 jam dalam 1 minggu, hinnga masalah kompetensi guru PAI di sekolah
yang masih diragukan.Permasalahan tersebut dapat disiasati misalnya dengan
program ekstra kurikuler, menciptakan lingkungan yang Islami, meningkatkan
kompetensi guru, dan melakukan inovasi-inovasi PAI yang lainnya.
2.Lembaga
Pendidikan Non Formal (TPQ Nurul Iman Pegalongan)
Dari permasalahan yang ada di atas dapat saya simpulkan, bahwasanya
faktor penghambat ataupun masalah yang dapat menghambat pelaksanaan balajar
mengajar di TPQ Nurul Iman antara lain :
a. Tidak ada kejelasan mengenai pelajaran apa saja yang diajarkan
kepada siswa-siswi pada proses belajar mengajar di TPQ. Secara kurikulum ,
memang belum ada urutan kurikulum yang runtun secara baik yang dibuat oleh
pengelola TPQ ini.
b. Sarana dan prasarana seperti lcd, belum tersedia.
c. Pengelolaan TPA kurang bagus, TPA bukanlah pendidikan formal,
agaknya secara administrasi TPA ni dibilang sangatlah kurang, cara
mempromosikanya juga kurang sehingga masyarakat agaknya kurang merespon adanya
TPA ini.
d. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA.
e. Minimnya tenaga pengajar
f. Santri susah diatur suka bermain sendiri
Dan solusi yang dapat memecahkan berbagai permasalahan yang ada
adalah dengan cara memperbaiki kinerja administrasi dan pengelolaan TPQ
tersebut. Dan pastinya adanya dorongan untuk peserta didik dari orang tua.
B. Saran
1.Lembaga
Pendidikan Formal
Kepada pemerintah, hendaknya meninjau ulang perihal tata laksana
kurikulum sekolah yang hanya memberikan space terhadap mata pelajaran PAI tidak
imbang dengan mata pelajaran lainnya. Kepada guru PAI atau calon guru PAI,
hendaknya terus menerus meningkatkan kompetensinya mengingat tantangan PAI ke
depan, khususnya di sekolah cukup rumit.
2.Lembaga
Pendidikan Non Formal
Dan solusi yang dapat memecahkan berbagai permasalahan yang ada
adalah dengan cara memperbaiki kinerja administrasi dan pengelolaan TPA
tersebut. Dan pastinya adanya dorongan untuk peserta didik dari orang tua.
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga
Formal :
Buna’i,
dkk,Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional. Pamekasan: STAIN PMK Press.2010
Hasibuan,
Lias,Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan. Jakarta: GP Press.2010
Majid
abdul & Dian Andayani,Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi.Bandung
: Rosda Karya.2005
Siswanto,Pendidikan
Islam dalam Perspektif Filosofis. Pamekasan: STAIN PMK Press.2013
Yamin,
Martinis,Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: GP Press.2011
Lembaga
Non Formal :
Budiyanto Mangan,Ilmu pendidikan Islam.Yogyakarta: Griya
Santri.2001
Hasbulloh,Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta : Raja
Grafindo Persada.2009
Roqib Moh,Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : LkiS Printing
Cemerlang.2009
Yahya
Yuridik.Psikologi Perkembangan.Jakarta: Kencana.2011
LAMPIRAN-LAMPIRAN





[1] Buna’i,
dkk. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional. Pamekasan: STAIN PMK Press, 2010. Hlm 39
[2]Yamin,
Martinis. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: GP Press, 2011. Hlm 61
[3] Siswanto.
Pendidikan
Islam dalam Perspektif Filosofis. Pamekasan: STAIN PMK Press, 2013.
Hlm 12
[4] Abdul
Majid & Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi.Bandung
: Rosda Karya 2005), hlm. 170-171
[5] Lias
Hasibuan. Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan.Jakarta: GP Press, 2010),
hlm. 66-72
[6]
Wawancara dari Ketua Penyelenggara TPA Nurul Iman Bapak Imam Muntohar
[7] Yudrik
yahya. Psikologi Perkembangan. Jakarta: kencana.2011,Hlm 192
[8] Mangun
Budiyanto. Ilmu
pendidikan islam.Yogyakarta: Griya Santri.2001,Hlm 148-149
[9]
Hasbulloh.Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada.2009,Hlm
39
[10]
Wawancara dari Ketua Penyelenggara TPA Nurul Iman Pegalongan Bapak Imam
Muntohar
[11] Moh
Roqib,Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : LkiS Printing Cemerlang, 2009,
Hlm 133
Komentar
Posting Komentar