Problematika Pendidikan Islam Formal dan Non Formal
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM
(PENDIDIKAN FORMAL & NON FORMAL)
DI SD NEGERI 2 CIKEMBULAN & TPQ BAITUL MUTAQIN
KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS

Disusun untuk memenuhi tugas
terstruktur
Mata Kuliah : Kapita Selekta Pendidikan
Dosen Pengampu :Rahman Afandi, M.S.I
Disusun Oleh :
Niken Herlianti 1423305161
6 PGMI D
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PURWOKERTO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai petunjuk Illahi mengandung implikasi kependidikan yang mampu
membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, muhsin, dan
muttakin melalui proses tahap demi tahap. Islam sebagai ajaran mengandung
sisitem nilai dimana proses pendidikan Islam berlangsung dan berkembang secara
konsisten untuk mencapai tujuannya. Pendidikan Islam yang diartikan sebagai
suatu sistem kependidikan yang m,encakup seluruh aspek kehidupan yang
dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi
seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.
Pendidikan yang berkembang dibagi menjadi dua kategori umum, pendidikan
formal dan non formal. Pendidikan formal adalah sistem pendidikan modern yang
dibagi-bagi secara berjenjang, tersusun, dan berurutan, sejak dari sekolah
dasar sampai perguruan tinggi. Selanjutnya, selain keterbatasan sekolah-sekolah
dasar dan ketidakefisiennya. Karena itu untuk memenuhi kebutuhan belajar pokok
lainnya mereka bergantung pada lembaga pendidikan nonformal.
Pendidikan nonformal yakni beraneka warna bentuk kegiatan pendidikan yang
terorganisasi atau setengah terorganisasi yang berlangsung diluar sistem
persekolahan, yang ditujukan untuk melayani sejumlah besar kebutuhan belajar
dari berbagai kekompakan penduduk, baik tua maupun muda.
Banyaknya lembaga pendidikan formal dan non formal di Indonesia sangatlah
menunjang untuk memajukan SDM yang berkualitas. Apalagi pendidikan tersebutn
didalamnya berkaitan dengan pendidikan agama Islam yang mana hal tersebut dapat
meningkatkan ketakwaan dan keimanan SDM tersebut.
Adapun yang menjadi objek penelitian adalah lembaga pendidikan formal
yang terdiri dari SD Negeri 2 Cikembulan,dan lembaga pendidikan nonformal yang
terdiri dari TPQ Baitul Mutaqin Cikembulan. Penulis mengkaji pelaksanaan
pendidikan Islam yang ada didalam lembaga pendidikan tersebut dengan maksud
mempelajari lebih dalam bagaimana proses pelaksanaan pendidikan Islam yang ada.
Dari latar belakang tersebut penulis bermaksud mengadakan penelitian
tentang pelaksanaan pendidikan Islam di lembaga pendidikan formal dan
nonformalyang ada didesa Nusajati. Adapun penelitian yang dilakukan adalah
penelitian yang bersifat deskriptif dan hanya ingin mendeskripsikan pelaksanaan
pendidikan Islam yang ada dilembaga pendidikan formal dan nonformal didesa
Cikembulan dengan disertai data yang penulis temukan di lapangan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang berada dalam latar belakang diatas, maka penulis
mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimana pelaksanaan
pendidikan Islam dilembaga pendidikan formal dan nonformal”
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan
pendidikan Islam dilembaga pendidikan formal dan nonformal di desa Cikembulan.
2. Manfaat penelitian
a. Sebagai upaya peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan
b. Sebagai bahan informasi ilmiah tentang pelaksanaan pendidikan Islam
dilembaga pendidikan formal dan nonformal di desa Cikembulan
c. Bagi para pembaca untuk mempraktekan teori dan ilmu yang pernah diperoleh
dalam kegiatan pendidikan
BAB II
GAMBARAN UMUM DESA CIKEMBULAN
A. Letak Geografis
Cikembulan adalah desa di kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani. Terletak di selatan Curug
Cipendok perbatasan antara Kecamatan Pekuncen dan Cilongok. Di massa kepemimpinan Bambang Sudiro (1999-2013) Cikembulan menjadi desa yang makmur dan tentram.
Berkat kewibawaan dan kepemimpinannya yang adil tanpa pilih - pilih kepada
rakyatnya. Sebagian besar penduduk masih berharap dia yang memimpin. Terdapat 3
Sekolah dasar disini yaitu SD NEGERI 1,2,3 Cikembulan.
B.
PELAKSANAAN PENDIDIKAN ISLAM PADA LEMBAG
PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL
Tujuan Belajar dan Pembelajaran
1.
SD Negeri 2 Cikembulan
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan nara
sumber pada tanggal 12 April 2017 bahwa
tujuan didirikannya SD tersebut dan tujuan mengajar/mendidik yakni sesuai dengan visi dan misinya yaitu :
a. Visi
Mengedepankan prestasi berdasarkan iman dan taqwa.
b. Misi
1) Melaksanakan KBM dengan efektif
2) Melakukan bimbangan belajar diluar
jam sekolah
3) Mengadakan koordinasi dengan tokoh masyarakat dan lembaga pendidikan.
2. TPQ Baitul Mutaqin
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan nara sumber pada tanggal 12 April
2017 bahwa tujuan didirikannya TPQ tersebut dan tujuan mengajar/mendidik yakni
sesuai dengan visi dan misinya yaitu :
1) Menghidupkan/melestarikan ajaran agama Islam
2) Mencari ridha Allah SWT
3) Membebaskan/menghilangkan buta huruf al-Qur’an
4) Memberikan ilmu pengetahuan dibidang agama Islam
C. Pembelajaran
Dalam melaksanakan pembelajarannya SDN 2 Cikembulan memakai kurikulum KTSP
yang sudah berlaku dilembaga-lembaga pendidikan pada umumnya yang ditetapkan
pemerintah daerah setempat. Kurikulum yang merupakan suatu program pendidikan secara ssistematik dalam
proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Waktu kegiatan yang digunakan untuk KBM yaitu seperti layaknya
sekolah-sekolah umumnya, masuk pukul 07.00 sampai pukul 10.00 (untuk kelas 1
dan kelas 2), pukul 13.00 (kelas 3-kelas 6). Adapun mata pelajarannya yaitu matematika, IPS,
IPA, PPKN, bahasa Indonesia, penjaskes, mulok, PAI dan lain sebagainya.
Saat KBM berlangsyangung para pengajar
menggunakan metode classical dengan memakai kelompok belajar. Selain itu juga,
menggunakan metode pembelajaran ceramah, Tanya jawab dan diskusi yang hanya
digunakan kelas 3 sampai kelas 6. Sedangkan, evaluasi yang digunakan yaitu tes
tertulis dan praktek. Ada mata pelajaran yang hanya tes tertulis saja, ada yang
praktek saja, dan ada juga mata pelajaran yang tesnya memakai keduanya.
TPQ Baitul Mutaqin pelaksanaan pembelajarannnya yang ada didalamnya belum
mempunyai kurikulum yang baku/tertulis.Dikarenakan hanya mempunyai 1 orang
pengajar saja dengan jumlah santri kurang lebih 70-100 santri dengan system
bertahap yang waktu pembelajarannya itu mulai dari pukul 14.00 sampai dengan
masuknya waktu shalat ‘Isya. Adapun mata pelajaran yang dikaji yaitu iqra’ jilid 1-6, al-Qur’an, mabadi
dan kitab-kitab yang lainnya.
Berbeda dengan lembaga pendidikan yang lainnya,
evaluasi yang digunakan yakni pada akhir semester ataupun pada akhirus sanah.
Tetapi, pada TPQ ini setiap kali santri selesai mengaji/KBM diadakannya sebuah
evaluasi ataupun praktek langsung dan pada akhir semester ataupun pada akhirus sanah
evaluasi yang digunakan yakni tes tertulis dan praktek/lisan.
D. Keadaan Sarana, Prasarana Serta Sumber Dana Lembaga Pendidikan Formal dan
Non Formal
Berdirinya sebuah lembaga pendidikan baik formal maupun non formal
pastiolah tidak bisa lepas akan adanya kebutuhan sarana dan prasarana serta
dana yang digunakan sebagai fasilitas, untuk mendukung dan mempermudah dalam
pelaksanaan PBM. Walaupum pada hakikatnya tidaklah menjadi penentu utama dalam
pelaksanaan dan keberhasilan dari PBM tersebut.
Keadaan Sarana, Prasarana dan Sumber Dana Lembaga Pendidikan Formal
Sarana dan prasarana pada lembaga pendidikan
formal yang diteliti yakni pada SDN 2 Cikembulan sudah cukup memadai. Dari segi gedung (ruang
kelas), perpustakaan dan lain sebagainya, hanya saja fasilitas berupa alat
peraga masih sangat minim. Adapun sumber dana pada lembaga pendidikan ini
sebagian dari dana BOS dan kekurangannya oleh komite sekolah ditujukan kepada
wali murid berupa dana infaq ataupun SPP. Karena dana tersebut penting untuk
menunjang operasional sekolah, seperti untuk memperlancar KBM, memenuhi
kebutuhan yang belum ada, dan lain
sebagainya.
E. Problematika Dalam KBM Lembaga Pendidikan Formal dan
NonFormal
1. Kendala dalam KBM lembaga pendidikan formal
Pada lembaga pendidikan formal yang dilihat dari
fasilitas yang ada sudah cukup memadai, tapi tetap ada masih adanya kendala,
antara lain yaitu :
a) Latar belakang tenaga pengajar dengan apa yang mereka ajarkan kurang adanya
kesesuaian.
b) Siswa yang belum cukup umur untuk masuk sekolah ataupun siswa yang IQ-nya
kurang, maka terdapat sebuah kesulitan dalam pembelajaran dan dengan siswa yang
lainnya.
c) Walawpun adanya BOS, tetapi didalamnya masih saja terdapat kekurangan
dibidang fasilitas untuk pembelajarannya, seperti buku pegangan guru dan siswa,
alat peraga dan lain sebagainya.
d) Siswa yang bergaul dengan orang yang tidak sesuai umurnya, maka akan
mengakibatkan tingkah lakunya itu menjadi semaunya sendiri dan cenderung
terjadinya sebuah kriminalitas dari siswa tersebut.
Adapun langkah-langkah untuk mengatasi
kendala-kendala tersebut, yaitu :
a) Guru memberikan nasihat ataupun pengarahan terhadap siswa yang berperilaku
yang kurang baik.
b) Guru dituntut kreatif, inovatif,
evektif dan lain sebagainya.
2. Kendala dalam KBM lembaga pendidikan nonformal
Kendala yang kerap terjadi pada lembaga
pendidikan nonformal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada lembaga
pendidikan formal. Adapun kendalanya antara lain, yaitu :
a) Dana yang sangatlah minim, sehingga fasilitasbyang digunakan menjadi kurang
memadai.
b) Adanya teknologi elektronik
menyebabkan santri terlambat atau agak susah untuk berangkat mengaji.
c) Belum adanya kurikulum yang menjadi landasan program pengajaran.
Sedangkan langkah-langkah untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, antara
lain yaitu
a) Adanya sebuah kenegasan dari ustadznya, seperti adanya sebuah hukuman dan
lain sebagainya.
b) Ustadz dituntut harus mempunyai target yang pasti dalam PBM berlangsung.
c) Adanya sebuah kedisiplinan yang diterapkan oleh asatidznya dan
santrinya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penulisan laporan
yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pembelajaran yang ada di Lembaga Pendidikan Islam Formal dan
Non Formal sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Materi yang disampaikan telah disesuaikan dengan kemampuan siswa baik dalam
Lembaga Formal maupun NonFormal.
3. Metode yang digunakan rata-rata adalah ceramah, tanya jawab, diskusi dan
hafalan/ praktek langsung.
4. Evaluasi yang digunakan oleh lembaga
pendidikan formal dan non formal yakni tes tertulis, praktek dan hafalan.
5. Sarana dan prasarana baik pada lembaga formal maupun non formal sangatlah
menunjang dalam proses pembelajaran walaupun bukan faktor yang paling utama.
B. Saran-Saran
Dari hasil penelitian
ini, maka penulis menyarankan:
1. Menggunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.
2. Hendaknya semua pemeluk agama islam menyadari betapa pentingnya pendidikan
islam.
3. Disiplin, semangat, ulet dan kreatifitas serta motivasi harus selalu
dijaga.
4. Memaksimalkan apa yang ada disekeliling kita sebagai penunjang KBM.
5. Mensyukuri segala nikmat yang telah
diberikan oleh Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga
Formal :
Buna’i,
dkk,Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional. Pamekasan: STAIN PMK Press.2010
Hasibuan,
Lias,Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan. Jakarta: GP Press.2010
Majid
abdul & Dian Andayani,Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi.Bandung
: Rosda Karya.2005
Siswanto,Pendidikan
Islam dalam Perspektif Filosofis. Pamekasan: STAIN PMK Press.2013
Yamin,
Martinis,Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: GP Press.2011
Lembaga
Non Formal :
Budiyanto Mangan,Ilmu pendidikan Islam.Yogyakarta: Griya
Santri.2001
Hasbulloh,Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta : Raja
Grafindo Persada.2009
Roqib Moh,Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : LkiS Printing
Cemerlang.2009
Yahya
Yuridik.Psikologi Perkembangan.Jakarta: Kencana.2011
Komentar
Posting Komentar